Tragedi Nasi Gratis, Sindrom "Darmaji" dan Hipokrisi Amplop pemilu
Saat kita mendengar kata "Makan Bergizi Gratis" (MBG), pikiran publik sering kali langsung tersugesti pada hal-hal negatif :
• keracunan makanan,
• dapur yang jorok,
• atau sekadar ajang menghamburkan anggaran.
Program ini terlanjur diselimuti stigma, diperparah oleh masifnya pemberitaan tentang insiden keracunan hingga potensi korupsi oknum di dalamnya. Namun, jika kita mau jujur membongkar isi kepala kita sendiri, akar dari skeptisisme itu bermuara pada satu hal: "Gratis".
Dalam alam bawah sadar masyarakat kita, sesuatu yang gratis cenderung dimaknai sebagai sesuatu yang kurang bernilai, tidak bermanfaat, dan layak diremehkan. Mari kita bandingkan sikap kita terhadap MBG dengan sikap kita saat makan di rumah makan murah. Katakanlah Keduanya jelas berbeda; yang satu program pemerintah, yang satu milik pribadi pelaku usaha.
Namun, ada satu kesamaan mutlak: keduanya menyajikan makanan yang pada akhirnya dibiayai oleh uang kita juga, MBG diambil dari anggaran negara yang notabene uang rakyat, sementara di warung murah kita mengeluarkan uang secara langsung dari dompet kita.
Anehnya, perlakuan kita bagai bumi dan langit. Terhadap MBG, kita mendadak menjadi kritikus makanan dan auditor kesehatan tingkat dewa. Kita mencecar:
Apakah bahannya bagus? Apakah dapurnya higienis? Apakah semuanya sehat?
Namun, apakah pertanyaan kritis serupa kita ajukan saat melahap makanan di warung berharga miring tersebut? Tentu kita semua tahu jawabannya.
Tulisan ini sama sekali tidak memposisikan diri untuk membela pemerintah atau menjadi pendukung program tersebut. Menutup mata pada kelemahan teknis pelaksanaan MBG tentu keliru, tetapi menyimpulkan bahwa program ini seratus persen salah dan tidak memiliki manfaat nyata adalah sebuah penyederhanaan yang lahir dari kemalasan berpikir.
Masyarakat kita terlalu mudah digiring oleh informasi yang berkembang tanpa benar-benar menggunakan pikirannya sebagai penambah nilai validitas terhadap apa yang benar dan salah.
Kita gemar mengkritik program hanya karena riak-riak kekurangannya, namun abai melihat realitas di akar rumput. Bagi keluarga kurang mampu, program ini adalah penyelamat anggaran harian. Uang jajan dan makan anak di sekolah bisa dipangkas, tersisa hanya untuk ongkos transportasi. Sehingga anak yang hanya memiliki ongkos saja tanpa uang tambahan sebagai uang jajan tetap masih bisa pergi dengan nyaman tanpa bayang bayang akan rasa lapar pada saat proses belajar berlangsung di sekolah. Jika ada anak yang menolak makanannya dan menolak pergi kesekolah tanpa uang jajan lebih sehingga pada akhirnya orang tua tetap harus mengeluarkan uang harian (ongkos dan uang jajan) seperti biasa, maka itu adalah persoalan karakteristik dan preferensi anak tersebut, bukan lantas menggugurkan esensi dari programnya.
Lebih jauh lagi, ada dimensi moral yang jarang disentuh. Dalam bahasa Sunda, ada istilah "Darmaji" atau dahar lima ngaku hiji (makan lima, mengaku satu saat membayar kepada penjual). Fenomena ketidakjujuran di kalangan anak-anak ini sering kali bukan lahir dari niat jahat, melainkan dari insting bertahan hidup: anak merasa lapar di sekolah, tapi tidak memiliki uang jajan yang cukup. Jika hal tersebut dibiarkan berkembang, "Darmaji" adalah tunas kecil korupsi di masa depan. Entah itu di ruang lingkup pemerintahan atau hanya di tempat kerja. Mengingat tindakan korupsi tidak hanya bisa terjadi di pemerintahan juga bisa terjadi di tempat kerja biasa, persoalannya bukan skala. Apapun itu, dimanapun itu, dan uang siapapun itu,. Tidakan korupsi tetapkan tindakan yang tidak bertanggung jawab yang akan membawa dampak buruk pada sekitar.
MBG hadir menjadi salah satu faktor pendukung pemutus rantai itu kebiasaan itu. Perut yang kenyang menyelamatkan anak-anak kita dari dorongan berbuat tidak jujur akibat himpitan rasa lapar. Dalam kondisi kenyang anak bisa lebih berkonsentrasi pada saat proses pelajaran berlangsung. Karena tubuh mampu mensuplai energi yang di butuhkan oleh otak.
Sayangnya, nalar objektif seperti ini tertimbun oleh tradisi "ikut-ikutan" yang mengakar di masyarakat. Kita hidup di era di mana kebenaran seolah ditentukan oleh kuantitas suara yang bising. Bayangkan, di media sosial, tidak bermaksud menghakimi seperti yang sering kita lihat tidak sedikit warganet atau ibu-ibu muda yang mungkin saja belum memiliki dasar pemahaman terhadap batas tanggung jawab kepala negara atau definisi kebijakan publik, namun paling fasih mencaci maki karena mungkin terbawa arus. Tradisi latah ini sangat berbahaya. Dari rahim kebiasaan ikut-ikutan inilah fitnah dan pencemaran nama baik tumbuh subur tak terkendali. Sehingga banyak nya fitnah yang terlihat seperti sebuah kebenaran, hanya karena orang banyak mengatakan hal yang serupa.
Bagi mereka yang gemar mengkritik tanpa dasar, mari kita bedah sebuah kebijakan menggunakan tiga pilar utama: Niat, Tujuan, dan Metode. Sebagai individu yang berakal, kita wajib memahami ketiganya agar kita benar-benar tahu di mana kita berpijak. Apakah kita berdiri di pihak kebenaran, atau kita sekadar menjadi "wadah" bagi sebuah narasi yang diciptakan pihak tertentu? Jika kita hanya ikut-ikutan tanpa memahami letak kesalahan sesungguhnya, kita tak lebih dari sekumpulan massa yang menampung narasi tanpa kesadaran. Suara dari orang yang hanya menjadi "wadah" tidak bisa disertakan sebagai penambah kuantitas kebenaran.
Dalam kasus MBG, kita harus jernih. Sangat mungkin niat dan tujuan pemangku kebijakan sangat baik untuk masyarakatnya. Jangan sampai, hanya karena metode pelaksanaannya yang masih keliru entah karena kurangnya pengawasan atau mismanajemen kita menjadi buta dan secara serampangan mengaburkan niat serta tujuan baik di dalamnya. Kesalahan pada metode menuntut perbaikan sistem, bukan penghancuran tujuan.
Sikap kritis terhadap pengelolaan anggaran pemerintah memang sudah seharusnya dilakukan dan tidak boleh asal-asalan. Namun, menjadi lucu sekaligus miris ketika publik yang sedemikian cerewet menuntut akuntabilitas pada sepiring nasi gratis, justru mendadak amnesia pada saat pemilu tiba.
Ketika waktunya menentukan siapa orang yang akan kita percayakan untuk mengelola triliunan anggaran tersebut, kepedulian itu menguap begitu saja.
Pada saat penentuan awal di bilik suara, kita sering kali merasa yakin telah memilih orang yang tepat. Sayangnya, keyakinan itu bukan didasari oleh rekam jejak, melainkan hanya karena isi amplopnya memiliki nominal yang sedikit lebih besar dari kandidat lain. Kita terlalu sibuk menghitung jumlah amplop yang kita dapatkan, sampai-sampai kita lupa bertanya pada diri sendiri: apakah kita sudah memastikan bahwa orang yang kita pilih ini memang orang yang tepat?
Pada akhirnya, kita adalah masyarakat paradoks. Kita menuntut kualitas tak bercela untuk fasilitas gratis dari negara, tapi di saat yang sama, kita menggadaikan masa depan itu sendiri hanya demi recehan yang habis dalam sehari.
Menahan diri untuk tidak menanggapi sesuatu yang kita sendiri belum memahaminya lebih bijak dari pada memaksakan mengetik tanggapan yang di dasari perasaan sepontan yang tercipta setelah membaca atau mendengar sebuah informasi di media sosial.
Berikut adalah bentuk iluatrasi dari argumen-argumen yang kemungkinan berkembang, menjadi topik diskusi antara pihak pro dan kontra,
