Sorotan Memuat artikel terbaru...

Iklan

Akar kejahatan dan ilusi kebijakan, Mengapa penguasa Adalah Cerminan Masyarakatnya.

Text Size Calculating... read
Sebuah buku catatan terbuka yang berisi coretan pemikiran kritis tentang logika, terletak di atas meja kayu estetik berdampingan dengan pena, secangkir kopi, lilin menyala, dan bola kaca. Terdapat teks tebal bertuliskan "LOGIKA: SENI BERPIKIR BENAR - MENJAWAB KEJAHATAN DARI AKAR".
Sebuah buku catatan terbuka yang berisi coretan pemikiran kritis tentang logika, terletak di atas meja kayu estetik berdampingan dengan pena, secangkir kopi, lilin menyala, dan bola kaca. Terdapat teks tebal bertuliskan "LOGIKA: SENI BERPIKIR BENAR - MENJAWAB KEJAHATAN DARI AKAR".



Ketika berbicara tentang "kejahatan", sorotan utama publik sering kali hanya tertuju pada satu arah: penyalahgunaan kekuasaan oleh pemerintah terhadap masyarakatnya. Kita terbiasa menuding ke atas. Padahal, jika kita mau menelaah lebih dalam, ada sebuah bentuk kejahatan yang dampaknya jauh lebih merusak dan teramat jahat, yaitu kejahatan yang hidup, tumbuh, dan dipelihara di tengah-tengah masyarakat itu sendiri.

Kritik Tanpa Tolak Ukur dan Ilusi Kesempurnaan Mari kita lihat realitas yang sering terjadi saat sebuah kebijakan publik diluncurkan.

Sebagian kelompok orang sering kali berkumpul dan berteriak lantang memprotes suatu kebijakan hanya karena mereka menemukan celah atau kerentanan di dalamnya. Fokus mereka semata-mata tertuju pada kelemahan tersebut, tanpa menggunakan tolak ukur yang jelas atau perbandingan yang objektif antara manfaat positif jangka panjang dan dampak negatifnya.

Sikap reaktif semacam ini mengabaikan satu kebenaran universal: celah atau kerentanan akan selalu ada pada setiap hal yang berlaku di dunia ini. Tidak ada satu pun sistem buatan manusia yang benar-benar sempurna dan tanpa cela. Manfaat positif dan dampak negatif di dalam sebuah kebijakan memiliki kesamaan dengan esensi kehidupan itu sendiri—keduanya niscaya memiliki hal baik dan buruk, kebaikan dan juga kejahatan.

Tidak ada kehidupan yang benar-benar bersih dan steril dari keburukan. Di mana ada kebaikan, di situ pasti ada kejahatan; di mana ada dampak buruk, niscaya ada dampak baik yang menyertainya.

Filosofi Siang dan Malam Dalam melihat fenomena ini, kita dapat merujuk pada prinsip-prinsip pemikiran sistematis. Pemahaman yang utuh membutuhkan kita untuk melihat bahwa kebaikan dan keburukan pada dasarnya adalah hal yang serupa; yang membedakannya hanyalah keadaan.

Analogi terbaik untuk hal ini adalah pergantian siang dan malam. Siang dan malam sejatinya berada di tempat yang sama, ruangnya tidak berpindah dan tidak berubah. Perubahan yang terjadi hanyalah perkara "ada" dan "tiadanya" sesuatu. Siang terjadi karena hadirnya matahari dan tidak terlihatnya bulan, begitu pula malam terjadi karena hadirnya bulan dan tidak terlihatnya matahari. Matahari dan bulan-lah yang memengaruhi keadaan tersebut.

Namun, satu hal yang pasti: baik matahari maupun bulan tidak pernah benar-benar menghilang. Mereka tetap ada, bergerak di waktu dan tempat yang berbeda. Hanya karena kita tidak melihat matahari di malam hari, bukan berarti matahari itu lenyap. Begitu juga dengan sebuah kebijakan. Hanya karena kita sedang menyoroti dampak buruknya, bukan berarti dampak baik dan manfaat positifnya benar-benar tidak ada. Sebaliknya, saat kita sedang menikmati dampak positif sebuah sistem, kita tidak boleh lengah karena dampak buruknya tetap mengintai. Memiliki kepekaan untuk melihat kedua sisi inilah yang sering kali hilang dari masyarakat kita. Akar Sesungguhnya dari Sebuah Kejahatan Besar Sampai pada titik ini, pemahaman kita seharusnya terbuka pada satu kesadaran penting. Kejahatan terbesar, yang memiliki pengaruh paling merusak dalam peradaban, bukanlah kejahatan besar yang berada jauh di gedung-gedung kekuasaan sana, melainkan kejahatan yang ada di sekitar kita.

Tentu saja, tindakan korupsi, kesewenang-wenangan, dan pelanggaran hukum di tingkat atas adalah hal yang tidak bisa ditoleransi. Akan tetapi, pernahkah kita berpikir bahwa kejahatan raksasa semacam itu berakar dari kejahatan-kejahatan kecil yang terjadi setiap hari di sekitar kita? Toleransi masyarakat terhadap pelanggaran-pelanggaran kecil, manipulasi skala rendah, dan ketidakjujuran komunal adalah pupuk yang menyuburkan tumbuhnya penguasa yang korup.

Penguasa Adalah Cerminan Masyarakat Hukum besi sosiologi menyatakan: Penguasa datang dari rakyat, dan nasib rakyat bisa ditentukan oleh penguasanya. Keduanya saling membentuk dalam sebuah siklus yang tak terputus.

Jika kita sebagai masyarakat hanya terus-menerus berfokus pada memprotes kebijakan di hilir tanpa membenahi mentalitas di hulu, kita hanya akan menciptakan episode-episode penderitaan yang sama secara berulang-ulang. Siapa pun, dan kapan pun seseorang membuat kebijakan, ia pasti akan selalu menghadapi dua hal mutlak: penerimaan dan penolakan. Protes tidak akan pernah mengubah keadaan secara permanen jika masyarakatnya sendiri enggan berubah.

Pada akhirnya, penguasa yang lahir dari sistem kemasyarakatan yang baik secara moral dan logis, niscaya akan menjadi penguasa yang baik pula. Dan penguasa yang tamak, lalim, serta korup sesungguhnya hanyalah cerminan dari masyarakat yang membiarkan "kejahatan-kejahatan kecil" tumbuh subur di halaman rumahnya sendiri.

Catatan:

Sebuah kejahatan di tingkat atas tidak serta merta memberi dampak kerusakan fatal secara seketika.

Namun kejahatan yang terjadi di sekitar kita tentu akan memberi dampak pasti secara langsung saat itu juga,. 

Untuk menghasilkan buah bagus pada suatu pohon di dalam suatu ekosistem perkebunan, maka di perlukan kebun yang bagus dan juga terawat. Sebagus apapun bibit pohon yang di tanam di kebun yang rusak maka tentu buah nya pun tidak akan sebagus yang di harapkan.




Foto Penulis
Ditulis Oleh

Satro Wardoyo



ads
Untuk Mu
Memuat artikel bisnis...
Pilihan

Iklan

Tools

Memuat Alat...

Novel

Menata rak novel...

Tips
Memuat tips bermanfaat...

Baca halaman ini dalam bahasa lain