Sorotan Memuat artikel terbaru...

Tren Harga Pangan Nasional Berdasarkan Data PHIPS Bank Indonesia, Harga Cabai Rawit Masih Paling tinggi

🎵 Menemani membaca: — Pilih suasana —
Text Size Calculating... read
Ilustrasi aneka bahan pangan pokok seperti cabai rawit, bawang, telur, beras, dan minyak goreng dengan visual data PIHPS Bank Indonesia yang menunjukkan tren harga pangan nasional per 22 Juli 2026.
Ilustrasi: Cabai rawit masih menjadi salah satu komoditas dengan harga tertinggi dalam kelompok sayuran berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia yang diperbarui pada 22 Juli 2026. Data tersebut menjadi acuan pemantauan tren harga pangan nasional.


Jakarta, Infokuari – Harga cabai rawit masih menjadi komoditas dengan harga tertinggi di kelompok sayuran berdasarkan pemantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia yang diperbarui pada 22 Juli 2026. Rata-rata harga cabai rawit merah tercatat mencapai Rp55.150 per kilogram, menunjukkan komoditas ini masih menjadi salah satu penyumbang utama tingginya pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan pangan.

Selain cabai rawit merah, sejumlah komoditas strategis lainnya juga masih berada pada level harga yang relatif tinggi. Cabai rawit hijau tercatat sekitar Rp52.450 per kilogram, cabai merah besar Rp47.550 per kilogram, dan cabai merah keriting Rp46.050 per kilogram.

Pada kelompok bumbu dapur, bawang putih dijual rata-rata Rp43.200 per kilogram, sedangkan bawang merah berada di kisaran Rp42.600 per kilogram.

Sementara itu, komoditas sumber protein hewani masih menunjukkan harga yang stabil. Daging sapi kualitas I tercatat sekitar Rp150.550 per kilogram, daging sapi kualitas II Rp141.700 per kilogram, daging ayam ras Rp38.750 per kilogram, dan telur ayam ras Rp29.600 per kilogram.

Untuk kebutuhan pokok lainnya, minyak goreng curah berada di kisaran Rp20.550 per liter, gula pasir premium Rp20.300 per kilogram, sedangkan beras kualitas Super I tercatat sekitar Rp17.650 per kilogram.

Cabai Masih Menjadi Perhatian

Tingginya harga cabai tidak selalu disebabkan oleh meningkatnya permintaan. Faktor cuaca, gangguan distribusi, serta perubahan pasokan dari sentra produksi sering menjadi penyebab utama fluktuasi harga komoditas hortikultura. Karena masa panennya relatif singkat dan produksi sangat dipengaruhi kondisi iklim, harga cabai cenderung lebih mudah berubah dibandingkan komoditas pangan lainnya.

Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat perlu terus memantau perkembangan harga agar distribusi dan pasokan tetap terjaga, terutama menjelang periode meningkatnya konsumsi masyarakat.

Harga Nasional Menjadi Acuan

Data PIHPS Bank Indonesia merupakan rata-rata harga pangan yang dihimpun dari berbagai daerah di Indonesia. Harga di tingkat pasar tradisional setiap daerah dapat berbeda bergantung pada kondisi pasokan, biaya distribusi, serta faktor cuaca di wilayah masing-masing.

Masyarakat diimbau menjadikan data nasional sebagai acuan untuk melihat tren pergerakan harga, sementara harga riil di daerah tetap mengacu pada hasil pemantauan pemerintah daerah dan kondisi pasar setempat.

Verifikasi Informasi

Status: Terverifikasi.

Data harga dalam artikel ini mengacu pada pembaruan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia tanggal 22 Juli 2026.

Sumber dan Verifikasi

Sumber primer

PIHPS Bank Indonesia – Tabel Harga Pangan Strategis Nasional (harga harian): 

Kata Kunci: , , , , , , , , , , ,

Komentar

Sorotan
Memuat artikel bisnis...

Baca halaman ini dalam bahasa lain