Sorotan Memuat artikel terbaru...

Iklan

Surat dari Stasiun Tua

Novel seri misteri dalam 6 episode

Episode 1: Surat yang Terlambat

Surat itu tiba pada Selasa pagi yang gerimis, terselip di antara tagihan listrik dan brosur kredit motor.

Laras hampir membuangnya. Amplopnya kuning kecokelatan, pinggirnya lembek seperti kerupuk yang kena embun. Tapi nama di depannya membuat jarinya berhenti: Ibu Sarini Wiryawan, Jl. Kenanga 12, Bandung.

Nenek. Nenek Sarini yang sudah meninggal tiga tahun lalu.

Cap posnya samar, tapi tahunnya terbaca jelas: 1987. Tiga puluh sembilan tahun sebuah surat tersesat entah di mana, lalu memutuskan pulang hari ini.

"Mustahil," gumam Laras. Ia duduk di lantai ruang tamu rumah peninggalan neneknya, rumah yang sedang ia rapikan untuk dijual. Sisa kardus pindahan berserakan di sekelilingnya.

Di dalam amplop hanya ada satu lembar kertas tipis dengan tulisan tangan miring yang rapi.

"Sarini, kalau surat ini sampai ke tanganmu, berarti aku sudah tak sempat kembali. Kotaknya masih di tempat yang kita sepakati. Jangan percaya Darsa. Jangan serahkan kunci pada siapa pun. Jemput kotak itu sebelum stasiun ditutup".

_____W______

Laras membacanya tiga kali. Stasiun? Darsa? Kunci?

Ia teringat sesuatu. Waktu kecil, Nenek pernah menggantungkan sebuah kunci kuningan kecil di lehernya, lalu buru-buru melepasnya lagi. "Ini bukan mainan, Ras," katanya waktu itu, dengan nada yang tak pernah Laras lupakan.

Laras bangkit dan menuju kamar Nenek. Di laci paling bawah lemari jati, di bawah tumpukan kebaya, ia menemukan kotak biskuit kaleng. Di dalamnya: foto-foto buram, gulungan benang, dan sebuah kunci kuningan.

Terikat pada kunci itu, secarik kertas bertuliskan satu kata: Batu Lawang.

Laras menatap kunci itu lama. Ia seorang akuntan, orang yang percaya pada angka dan bukti, bukan pada surat misterius dari masa lalu. Tapi untuk pertama kalinya sejak pemakaman Nenek, ada sesuatu yang membuat dadanya terasa hidup.

Ia membuka ponsel dan mengetik: Stasiun Batu Lawang.

Hasil pertama: Stasiun tidak aktif sejak 1988. Bangunan cagar budaya, kondisi terbengkalai.

Laras menutup layar, menggenggam kunci itu, dan tahu bahwa rumah ini tidak akan terjual dulu.

Episode 2: Bangku Nomor Tujuh

Sabtu pagi, Laras naik kereta lokal ke arah timur. Dua jam, tiga kali oper, lalu ojek tua yang melaju melewati sawah dan kebun teh.

Stasiun Batu Lawang muncul di balik pohon-pohon trembesi seperti bangunan yang lupa dirobohkan. Atapnya masih utuh, catnya mengelupas, dan jam dinding di peron berhenti pada pukul 10.40.

"Dulu ramai sekali, Neng," kata tukang ojek, namanya Mang Ujang. "Sekarang yang datang cuma tukang foto prewedding sama anak muda cari hantu."

"Ada yang menjaga tempat ini?"

"Ada. Pak Karto. Rumahnya di belakang."

Laras berjalan menyusuri peron. Lantai ubin bermotif bunga retak di sana-sini. Di sepanjang dinding berderet bangku besi bercat hijau lumut, masing-masing dengan pelat angka kecil. Satu, dua, tiga...

Bangku nomor tujuh berada di ujung, di bawah papan nama stasiun yang miring. Laras berlutut, meraba bagian bawahnya.

Ada sesuatu. Kotak logam sebesar buku tebal, dilas ke rangka bangku dan ditutup lapisan karat. Di sisinya, lubang kunci.

Jantungnya berdegup. Ia mengeluarkan kunci kuningan dan mencoba memasukkannya.

Tidak masuk. Terlalu besar.

"Bukan yang itu, Neng."

Laras terlonjak. Seorang lelaki tua berdiri di belakangnya, bertopi caping, memegang sapu lidi. Matanya sipit dan awas.

"Pak Karto?"

"Sudah lama saya menunggu seseorang datang bawa kunci itu," katanya pelan. "Kamu cucunya Bu Sarini, ya? Matamu sama."

"Bapak kenal Nenek?"

Pak Karto menoleh ke kiri dan kanan, seakan peron kosong itu punya telinga. "Bukan di sini. Ikut saya. Tapi jangan bilang siapa-siapa kamu ke sini hari ini."

Laras menurut. Namun saat melangkah pergi, ia sempat menoleh ke bangku nomor tujuh dan melihat sesuatu yang tadi luput dari matanya: di pelat angka itu, goresan kecil berbentuk anak panah menunjuk ke arah gudang bagasi di ujung stasiun.

Episode 3: Pak Darsa

Rumah Pak Karto kecil, berlantai tanah, beraroma kopi dan tembakau. Ia menyuguhkan teh manis, lalu duduk lama tanpa bicara.

"Tahun delapan puluh tujuh," ia akhirnya membuka, "stasiun ini dapat dana besar dari pusat. Untuk renovasi dan sebuah sekolah kecil bagi anak-anak kuli angkut. Bu Sarini waktu itu telegrafis. Beliau yang mencatat semua kabar masuk dan keluar."

"Dan Darsa?"

Rahang Pak Karto mengeras. "Kepala stasiun saat itu. Pak Darsa Atmaja. Orangnya ramah, murah senyum. Tapi uang sekolah itu tidak pernah sampai."

Laras mencondongkan badan. "Nenek tahu?"

"Bu Sarini yang pertama curiga. Telegram dari pusat menyebut angka yang jauh lebih besar daripada yang dibukukan Pak Darsa. Beliau menyalin semuanya diam-diam. Dan seorang pemuda membantunya, juru tulis muda bernama Wibisono."

"W," bisik Laras. "Yang menulis surat itu."

Pak Karto mengangguk pelan. "Mereka menyembunyikan salinan itu di kotak. Satu kunci dipegang Bu Sarini. Satu lagi dipegang Wibisono."

"Lalu Wibisono ke mana?"

Pak Karto menunduk. "Malam sebelum stasiun ditutup, ia pergi mengambil kotak dan tak pernah kembali. Desas-desus bilang ia kabur membawa uang. Bu Sarini tidak pernah percaya."

Suara mobil berhenti di depan rumah. Pak Karto menegang. Dari jendela, Laras melihat sedan hitam bersih dan seorang lelaki paruh baya berjas turun dari dalamnya, mengamati stasiun dari kejauhan.

"Itu Pak Hendra," bisik Pak Karto. "Anak Pak Darsa. Sudah tiga bulan ia membeli tanah di sekitar sini. Katanya mau dibangun resor."

"Resor... di atas stasiun ini?"

"Dan siapa pun yang tahu isi kotak itu akan mengganggu rencananya."

Laras menatap kuncinya. Kini ia mengerti kenapa surat itu berbunyi jangan percaya Darsa dan kenapa waktunya terasa begitu mendesak.

Episode 4: Peta di Balik Foto

Malam itu Laras menginap di rumah Pak Karto, di dipan bambu yang berderit setiap ia bergerak. Ia tak bisa tidur. Pikirannya terus kembali pada kunci yang tidak cocok dengan lubang di bangku nomor tujuh.

Pukul dua dini hari, ia menyalakan senter ponsel dan membuka kotak biskuit Nenek yang ia bawa. Satu per satu ia periksa foto-foto buram di dalamnya: Nenek muda di depan mesin telegraf, para kuli angkut berjajar, seorang pemuda berkacamata yang tersenyum malu.

Wibisono.

Laras membalik foto itu. Di baliknya ada tulisan Nenek: Wibi, hari pertama, Mei 1986. Tak ada yang aneh. Tapi pada foto kedua, bagian belakangnya terasa sedikit lebih tebal.

Ia mengerutkan kening, lalu mengelupas lapisan kertas itu dengan kuku. Pelan, pelan.

Di baliknya terselip sketsa tangan: denah stasiun, dengan garis-garis halus yang membentuk jalan dari bangku nomor tujuh menuju gudang bagasi, lalu ke satu titik bertanda silang di lantai. Di bawahnya tertulis:

Kunci besar di bawah lonceng. Kunci kecil di dalam. Kotak sebenarnya tidak di bangku.

"Bangku itu umpan," bisik Laras.

Ia bergegas keluar kamar dan mendapati Pak Karto duduk di beranda, menyulut rokok.

"Lonceng," kata Laras. "Apakah ada lonceng di stasiun ini?"

Pak Karto terdiam, lalu perlahan tersenyum, senyum pertama yang Laras lihat darinya. "Lonceng tanda keberangkatan. Digantung di gudang bagasi. Sudah puluhan tahun tak ada yang membunyikannya."

"Kalau begitu kita ke sana."

"Besok malam," kata Pak Karto. "Pak Hendra punya orang yang berjaga di siang hari. Malam, hanya ada jangkrik."

Laras menatap langit yang berbintang. Untuk pertama kali dalam hidupnya yang tertib dan penuh angka, ia merasa sedang melangkah menuju sesuatu yang tak bisa dihitung.

Episode 5: Malam di Gudang Bagasi

Bulan setengah, awan tipis. Mereka berjalan tanpa senter, hanya mengandalkan cahaya langit.

Gudang bagasi berbau karat dan kayu lapuk. Di langit-langit tergantung sebuah lonceng perunggu sebesar kepala kerbau, tertutup sarang laba-laba. Laras menyorotkan senter kecil ke bawahnya.

Lantai di sana tampak biasa, tapi satu ubin berwarna sedikit lebih gelap. Ketika Pak Karto menyodoknya dengan linggis kecil, ubin itu terangkat. Di bawahnya terdapat peti besi tua dengan dua lubang kunci: satu besar, satu kecil.

"Kunci besar... di bawah lonceng," Laras mengulang petunjuk di peta.

Benar saja. Di bagian dalam bibir lonceng, terekat dengan lilin yang telah mengeras, tergantung sebuah kunci besi sepanjang telapak tangan. Tangannya gemetar saat melepasnya.

Kunci besar masuk dengan bunyi klik yang menggema. Kunci kuningan Nenek menyusul. Tutupnya terbuka.

Di dalamnya: tumpukan telegram, buku besar tebal berlapis kain, dan segepok amplop kecil yang diikat pita biru pudar. Di atasnya, satu amplop terpisah bertuliskan Untuk Sarini.

Belum sempat Laras membukanya, cahaya senter menyapu dinding gudang.

"Wah, wah." Suara berat dan tenang. "Dua pencuri sejarah."

Pak Hendra berdiri di pintu, ditemani dua lelaki bertubuh besar. Ia melangkah masuk tanpa terburu-buru, menatap peti terbuka itu seperti menatap hadiah yang akhirnya sampai.

"Ayah saya selalu bilang ada sesuatu yang disembunyikan perempuan itu. Saya cari di mana-mana. Siapa sangka ada di bawah lonceng yang tiap hari saya lewati."

"Itu bukan milik Bapak," kata Laras, dengan suara yang lebih mantap daripada perasaannya.

"Dan milik siapa? Milik kamu, akuntan kecil?" Hendra tersenyum tipis. "Serahkan bukunya. Besok pagi semua ini jadi lahan resor, dan tak ada yang akan tahu apa pun."

Laras merunduk, seolah hendak menyerah. Tapi tangannya yang tersembunyi di balik punggung sudah menggenggam ponsel, merekam sejak tadi, dan satu ketukan terakhir mengirimkan video itu ke satu-satunya nomor yang ia kenal di kota ini: Mang Ujang, si tukang ojek, yang kebetulan ketua RW sekaligus adik ipar kepala polsek.

Episode 6: Pulang

Polisi tiba dua puluh menit kemudian, bersama separuh warga kampung yang terbangun oleh telepon berantai Mang Ujang. Gudang bagasi mendadak ramai oleh senter dan suara.

Hendra tidak melawan. Ia hanya menatap buku besar di tangan Laras dengan wajah yang pelan-pelan kehilangan warna.

Buku itu, setelah diperiksa petugas keesokan harinya, memuat salinan pembukuan asli dan telegram dana pusat. Angkanya jelas: dana sekolah dan renovasi dialihkan ke rekening pribadi Darsa Atmaja. Bukti yang cukup untuk membuka kembali kasus yang terkubur tiga puluh sembilan tahun, dan cukup untuk membatalkan izin tanah resor itu.

Setelah semua orang pergi, Laras duduk sendirian di bangku nomor tujuh dengan amplop bertuliskan Untuk Sarini di pangkuannya.

Ia membukanya.

"Sarini, kalau kamu membaca ini, berarti aku sudah tak sempat kembali, tapi jangan sedih. Aku tak kabur. Aku hanya terlambat. Aku ditahan orang-orang Darsa malam itu, dan sebelum mereka membawaku, aku sempat menitipkan surat ke kantor pos. Semoga suatu hari surat itu sampai. Kalau kamu menemukan kotak ini, gunakan isinya untuk membuat sekolah yang dulu kita rencanakan. Kamu selalu bilang anak-anak kuli itu lebih pintar dari kita semua.

Aku mencintaimu, Sarini. Dulu, sekarang, dan lebih lama dari karat di stasiun ini".

_______WIBISONO_______

Laras menutup mulut dengan tangan. Air matanya jatuh di atas tulisan miring yang sudah memudar itu.

Ini bukan kisah pencuri yang kabur. Ini kisah dua orang yang saling percaya, dan satu surat yang butuh hampir empat dekade untuk menemukan jalan pulang.

Pak Karto datang membawa dua gelas teh dan duduk di sebelahnya. "Jadi, Neng. Rumah di Bandung jadi dijual?"

Laras menatap peron yang kini diterangi matahari pagi, jam yang berhenti di pukul 10.40, anak-anak kampung yang mengintip malu-malu dari balik pagar.

"Tidak," katanya sambil tersenyum. "Saya rasa saya akan butuh waktu lama di sini. Ada sekolah yang harus dibuka."

Di atas mereka, untuk pertama kali sejak 1988, lonceng keberangkatan berdentang pelan, dibunyikan oleh Mang Ujang yang berdiri di bawahnya sambil nyengir.

Dan jam di dinding peron, entah oleh kebetulan atau keajaiban, bergerak satu menit ke depan.


TAMAT

Scroll Kesamping untuk membaca halaman berikutnya

Untuk Mu
Memuat artikel bisnis...
Pilihan

Iklan

Tools

Memuat Alat...

Novel

Menata rak novel...

Tips
Memuat tips bermanfaat...

Baca halaman ini dalam bahasa lain