Mengapa Kita Sering Terjebak Overthinking? 7 Trik Psikologis untuk Menghentikannya
Pernahkah satu percakapan sederhana terus berputar di kepala selama berjam-jam?
Seseorang mengatakan sesuatu yang sebenarnya biasa saja, tetapi setelah pulang kita mulai memikirkannya. “Tadi maksudnya apa?” “Jangan-jangan dia tersinggung.” “Seharusnya tadi aku menjawab seperti itu.”
Masalahnya, pikiran jarang berhenti pada satu pertanyaan.
Satu kemungkinan melahirkan kemungkinan lain. Hal kecil berubah menjadi skenario buruk. Akhirnya, sesuatu yang belum tentu terjadi terasa seperti masalah yang benar-benar sedang kita hadapi.
Inilah salah satu bentuk overthinking.
Overthinking bukan sekadar terlalu banyak berpikir. Dalam kehidupan sehari-hari, istilah ini biasanya digunakan untuk menggambarkan pola berpikir berulang yang tidak menghasilkan penyelesaian, tetapi justru membuat seseorang semakin terjebak dalam kekhawatiran atau penyesalan.
Menariknya, otak sebenarnya sedang mencoba melakukan sesuatu yang masuk akal: mencari kepastian dan menghindari kesalahan. Namun ketika proses tersebut berlangsung tanpa batas, mekanisme perlindungan itu justru dapat menjadi sumber tekanan.
Berikut beberapa trik psikologis sederhana yang dapat digunakan untuk memutus siklus tersebut.
1. Bedakan fakta dari cerita di kepala
Salah satu cara paling efektif untuk menghadapi overthinking adalah memisahkan apa yang benar-benar terjadi dari apa yang kita tafsirkan.
Misalnya, seseorang mengirim pesan:
“Nanti kita ngobrol.”
Faktanya hanya itu.
Namun pikiran bisa segera menambahkan cerita:
“Dia pasti marah.”
“Aku melakukan kesalahan.”
“Jangan-jangan ada masalah besar.”
Padahal belum ada bukti yang menunjukkan semua itu.
Cobalah bertanya:
“Apa fakta yang benar-benar saya ketahui saat ini?”
Pertanyaan sederhana tersebut membantu mengembalikan perhatian dari asumsi menuju kenyataan.
2. Gunakan aturan “bisa dikendalikan atau tidak?”
Overthinking sering menghabiskan energi pada sesuatu yang sebenarnya berada di luar kendali.
Apa yang orang lain pikirkan, bagaimana seseorang akan merespons, apa yang terjadi kemarin, atau kemungkinan sesuatu terjadi besok adalah contoh hal yang tidak sepenuhnya dapat kita kendalikan.
Daripada terus memikirkannya, bagi masalah menjadi dua kelompok:
Bisa saya kendalikan.
Tidak bisa saya kendalikan.
Jika bisa dikendalikan, tentukan satu tindakan kecil.
Jika tidak bisa dikendalikan, berhenti mencari jawaban yang memang belum tersedia.
Tujuannya bukan memaksa pikiran menjadi kosong, tetapi mengarahkan energi mental ke sesuatu yang dapat dilakukan.
3. Batasi waktu untuk memikirkan masalah
Ironisnya, mencoba memaksa diri untuk “jangan overthinking” terkadang justru membuat pikiran semakin fokus pada masalah.
Alternatifnya adalah memberikan waktu khusus untuk memikirkannya.
Misalnya, tetapkan 15 menit untuk menuliskan semua kekhawatiran yang muncul.
Selama waktu tersebut, tuliskan semuanya tanpa perlu menyelesaikannya.
Setelah waktunya selesai, kembali melakukan aktivitas lain.
Teknik ini memberikan batas pada proses berpikir sehingga kekhawatiran tidak mengambil seluruh waktu dalam sehari.
4. Jangan mengambil keputusan ketika emosi sedang tinggi
Ketika sedang takut, marah, malu, atau sangat cemas, otak cenderung memberikan perhatian lebih besar pada kemungkinan negatif.
Karena itu, keputusan yang dibuat ketika emosi sedang memuncak belum tentu sama dengan keputusan yang akan kita buat setelah keadaan lebih tenang.
Jika masalah tidak harus diselesaikan saat itu juga, beri jeda.
Tidur, berjalan sebentar, mandi, berolahraga ringan, atau mengalihkan perhatian untuk sementara dapat memberikan jarak antara emosi dan keputusan.
Jeda bukan berarti menghindari masalah.
Jeda berarti memberikan kesempatan untuk melihat masalah dengan kondisi yang berbeda.
5. Ganti pertanyaan “bagaimana kalau?” dengan “apa yang bisa saya lakukan?”
Pertanyaan “Bagaimana kalau?” sangat mudah memperpanjang overthinking.
Bagaimana kalau gagal?
Bagaimana kalau dia marah?
Bagaimana kalau semuanya berjalan buruk?
Pertanyaan tersebut bisa menghasilkan puluhan skenario tanpa pernah menghasilkan tindakan.
Cobalah menggantinya dengan:
“Kalau hal itu benar-benar terjadi, apa yang bisa saya lakukan?”
Perbedaannya kecil, tetapi arah pikirannya berbeda.
Pertanyaan pertama membawa kita menuju kemungkinan.
Pertanyaan kedua membawa kita menuju tindakan.
6. Jangan mencari kepastian untuk sesuatu yang memang belum memiliki jawaban
Salah satu jebakan overthinking adalah keinginan mendapatkan kepastian 100 persen.
Kita ingin tahu apakah seseorang menyukai kita.
Kita ingin tahu apakah keputusan yang dibuat benar.
Kita ingin tahu apakah sesuatu yang buruk akan terjadi.
Masalahnya, kehidupan tidak selalu menyediakan jawaban sebelum sebuah kejadian berlangsung.
Semakin keras kita memaksa pikiran mencari kepastian, semakin banyak pertanyaan baru yang muncul.
Dalam kondisi tertentu, menerima kalimat “Saya belum tahu” justru lebih sehat daripada terus mencari jawaban yang belum mungkin diketahui.
7. Turunkan masalah dari kepala ke kertas
Pikiran yang berputar di kepala sering terasa jauh lebih besar karena semuanya bercampur menjadi satu.
Menuliskannya dapat membuat masalah terlihat lebih konkret.
Cobalah menggunakan tiga kolom:
Masalah: Apa yang sebenarnya sedang saya pikirkan?
Bukti: Apa bukti yang mendukung kekhawatiran tersebut?
Tindakan: Apa satu hal yang bisa saya lakukan sekarang?
Contohnya:
Masalah: Takut melakukan kesalahan dalam pekerjaan.
Bukti: Ada beberapa bagian yang belum saya periksa.
Tindakan: Periksa kembali bagian tersebut selama 20 menit.
Dengan cara ini, pikiran yang awalnya abstrak berubah menjadi sesuatu yang lebih terstruktur.
Mengapa trik-trik ini bisa membantu?
Tujuan dari teknik tersebut bukan menghentikan semua pikiran.
Manusia memang berpikir, memperkirakan, mengingat, dan membayangkan berbagai kemungkinan. Itu bagian normal dari fungsi mental.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika proses berpikir berubah menjadi lingkaran yang sama: memikirkan masalah, mencari kepastian, menemukan kemungkinan baru, kembali memikirkan masalah, lalu mengulanginya lagi.
Memecahkan siklus tersebut sering kali tidak membutuhkan jawaban sempurna.
Kadang yang dibutuhkan hanyalah satu langkah nyata.
Daripada terus bertanya “Apa yang akan terjadi?”, kita dapat mulai bertanya “Apa yang bisa saya lakukan sekarang?”
Perubahan kecil dalam cara mengajukan pertanyaan dapat mengubah arah perhatian.
Dan ketika perhatian berubah, cara kita menghadapi masalah pun dapat ikut berubah.
Kesimpulan
Overthinking sering muncul ketika pikiran berusaha mendapatkan kepastian atas sesuatu yang belum memiliki jawaban.
Kita tidak selalu bisa mengendalikan apa yang muncul di kepala. Namun kita dapat belajar mengamati pikiran, memisahkan fakta dari asumsi, membatasi waktu untuk memikirkannya, dan mengubah kekhawatiran menjadi tindakan yang konkret.
Tidak semua masalah harus diselesaikan dengan berpikir lebih lama.
Beberapa masalah justru menjadi lebih jelas setelah kita berhenti berputar di dalam kepala dan mulai mengambil satu langkah kecil.
