Sorotan Memuat artikel terbaru...

Iklan

Narsis atau Cuma Percaya Diri? Ini Bedanya

Text Size Calculating... read
Ilustrasi perbedaan percaya diri dan narsisme melalui pantulan seseorang di cermin
Pria muda bergaya berdiri di depan cermin emas besar. Di sisi nyata ia tampak tenang dan percaya diri, sementara refleksinya terlihat lebih angkuh dan terobsesi dengan dirinya sendiri. Latar dinding biru tua dan tirai merah tua.



Ada orang yang mudah memuji dirinya sendiri. Suka membicarakan pencapaian, senang menjadi pusat perhatian, atau terlihat sangat yakin dengan kemampuannya.

Lalu muncul komentar yang sering kita dengar:

“Dia narsis banget.”

Masalahnya, percaya diri dan narsis sering dianggap sebagai hal yang sama. Padahal, dalam psikologi, keduanya tidak bisa begitu saja disamakan.

Seseorang bisa sangat percaya diri tanpa merasa dirinya lebih berharga daripada orang lain. Sebaliknya, seseorang juga bisa terlihat sangat yakin pada dirinya, tetapi memiliki pola perilaku yang membuat hubungan dengan orang lain menjadi sulit.

Jadi, sebenarnya apa bedanya?

Percaya diri tidak harus membuat orang lain merasa kecil

Orang yang percaya diri umumnya memiliki penilaian yang cukup positif terhadap kemampuan dirinya. Ia tahu apa yang bisa dilakukan dan, yang tidak kalah penting, mampu mengakui ketika ada sesuatu yang belum dikuasainya.

Misalnya, seseorang mendapatkan pekerjaan baru dan berkata:

“Saya yakin bisa mengerjakannya.”

Itu bukan narsisme.

Ia sedang menyampaikan keyakinan terhadap kemampuannya.

Orang percaya diri juga tidak selalu membutuhkan pengakuan dari semua orang. Ketika mendapat pujian, ia bisa menerimanya. Ketika mendapat kritik yang masuk akal, ia masih dapat mempertimbangkannya.

Percaya diri lebih berkaitan dengan bagaimana seseorang menilai dirinya sendiri.

Sedangkan persoalannya menjadi berbeda ketika kebutuhan untuk merasa unggul mulai mendominasi cara seseorang berhubungan dengan orang lain.

Narsisme bukan sekadar suka bercermin

Dalam percakapan sehari-hari, kata “narsis” sering dipakai untuk menyebut orang yang suka selfie, sering mengunggah foto dirinya, atau senang mendapatkan pujian.

Penggunaan seperti itu terlalu sederhana.

Dalam psikologi, narsisme merupakan istilah yang berkaitan dengan pola karakteristik seperti kebutuhan akan kekaguman, rasa penting terhadap diri sendiri yang berlebihan, dan kurangnya perhatian terhadap kebutuhan atau perasaan orang lain.

Namun ada hal penting yang sering terlewat:

Memiliki beberapa sifat narsistik tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan kepribadian narsistik.

Hampir semua orang bisa sesekali ingin dipuji, ingin terlihat hebat, atau merasa bangga terhadap dirinya sendiri.

Gangguan kepribadian narsistik adalah kondisi klinis yang jauh lebih spesifik dan membutuhkan penilaian profesional. Kita tidak bisa menentukan seseorang mengalami gangguan tersebut hanya dari beberapa perilaku yang terlihat di media sosial atau dari satu kejadian.

Coba lihat apa yang terjadi ketika dia dikritik

Salah satu cara paling menarik untuk melihat perbedaannya adalah memperhatikan respons seseorang ketika menerima kritik.

Orang percaya diri tidak selalu langsung menerima kritik. Ia bisa saja tidak setuju.

Tetapi biasanya masih ada ruang untuk berpikir:

“Apakah ada bagian dari kritik itu yang memang benar?”

Sementara pada pola narsistik yang kuat, kritik terhadap diri sendiri dapat terasa jauh lebih mengancam. Responsnya bisa berupa penolakan, kemarahan, meremehkan orang yang memberikan kritik, atau berusaha mengembalikan posisi dirinya sebagai pihak yang lebih unggul.

Tentu saja, satu reaksi marah tidak cukup untuk menyimpulkan seseorang narsistik.

Semua orang bisa tersinggung ketika dikritik.

Yang lebih penting adalah pola yang berulang.

Perhatikan cara seseorang memperlakukan orang yang tidak bisa memberinya keuntungan

Ini bagian yang sering lebih menarik daripada melihat bagaimana seseorang memperlakukan orang yang dianggap penting.

Seseorang bisa sangat ramah kepada atasan, orang terkenal, atau orang yang menurutnya memiliki pengaruh.

Tetapi bagaimana sikapnya kepada pelayan restoran?

Bagaimana ia memperlakukan pegawai baru?

Bagaimana reaksinya ketika pendapatnya kalah dalam sebuah diskusi?

Bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak memiliki sesuatu untuk diberikan kepadanya?

Dari situ kita bisa melihat lebih banyak tentang cara seseorang memandang orang lain.

Orang yang percaya diri tidak harus merendahkan orang lain agar dirinya terlihat tinggi.

Sedangkan pola perilaku narsistik dapat melibatkan kebutuhan untuk mempertahankan citra diri yang superior, termasuk dengan meremehkan atau mengeksploitasi orang lain dalam situasi tertentu.

Percaya diri bisa berkata “saya hebat”

Narsisme bisa membutuhkan kalimat:

“Tidak ada yang lebih hebat dari saya.”

Perbedaannya memang terlihat tipis, tetapi dampaknya besar.

Percaya diri tidak mengharuskan semua orang berada di bawahnya.

Seseorang bisa merasa dirinya pintar tanpa menganggap orang lain bodoh.

Bisa merasa dirinya menarik tanpa menganggap orang lain jelek.

Bisa bangga dengan pencapaiannya tanpa menganggap pencapaian orang lain tidak berarti.

Ketika harga diri seseorang bergantung pada posisi yang lebih tinggi dibandingkan orang lain, dinamika hubungan bisa berubah.

Persaingan pun tidak lagi sekadar tentang mencapai sesuatu.

Bisa berubah menjadi kebutuhan untuk menang.

Jangan tertipu oleh orang yang terlihat sangat percaya diri

Ada satu kesalahan lain yang cukup umum.

Kita sering menganggap orang yang berbicara lantang, tampil meyakinkan, dan tidak pernah terlihat ragu sebagai orang yang memiliki harga diri tinggi.

Padahal, penampilan percaya diri belum tentu menggambarkan kondisi psikologis seseorang secara keseluruhan.

Orang bisa terlihat sangat yakin di luar, tetapi tetap sangat bergantung pada pengakuan orang lain.

Sebaliknya, orang yang tenang dan tidak banyak bicara bukan berarti kurang percaya diri.

Karena itu, jangan menilai hanya dari volume suara, jumlah pengikut, pakaian, foto, jabatan, atau seberapa sering seseorang membicarakan keberhasilannya.

Lihat polanya.

Lalu bagaimana dengan orang yang suka selfie?

Suka selfie bukan bukti seseorang narsistik.

Begitu pula sering mengunggah foto diri.

Media sosial membuat seseorang memiliki banyak alasan untuk menampilkan dirinya: dokumentasi, pekerjaan, hiburan, membangun personal brand, atau sekadar menikmati aktivitas tersebut.

Masalahnya bukan pada satu perilaku.

Yang perlu diperhatikan adalah keseluruhan pola, terutama ketika seseorang sangat membutuhkan kekaguman, merasa berhak mendapatkan perlakuan khusus, sulit menerima kritik, atau secara konsisten mengabaikan kebutuhan orang lain demi mempertahankan citra dirinya.

Itu jauh lebih kompleks daripada sekadar “suka foto diri”.

Ada satu pertanyaan yang lebih berguna

Daripada bertanya:

“Apakah dia narsis?”

Coba tanyakan:

“Bagaimana perilaku orang ini membuat orang lain merasa dan bagaimana dia bereaksi ketika tidak mendapatkan apa yang dia inginkan?”

Pertanyaan tersebut membuat kita melihat perilaku secara lebih luas.

Apakah ia masih menghargai orang lain ketika tidak mendapatkan pujian?

Apakah ia bisa mengakui kesalahan?

Apakah ia mampu menerima keberhasilan orang lain tanpa harus mengecilkannya?

Apakah ia bisa meminta maaf tanpa segera mencari alasan untuk membenarkan dirinya?

Apakah hubungan dengannya terasa seperti hubungan dua arah, atau semuanya selalu berpusat pada dirinya?

Tidak satu pun pertanyaan tersebut bisa digunakan untuk memberikan diagnosis. Tetapi pertanyaan-pertanyaan itu dapat membantu kita membaca sebuah pola hubungan dengan lebih jernih.

Percaya diri tidak membutuhkan korban

Pada akhirnya, perbedaan sederhananya bukan tentang siapa yang lebih sering bercermin atau siapa yang paling banyak memposting foto.

Percaya diri berarti seseorang dapat memiliki nilai terhadap dirinya sendiri tanpa harus terus-menerus mengurangi nilai orang lain.

Narsisme, dalam konteks psikologi, jauh lebih kompleks dan berkaitan dengan pola karakteristik tertentu. Dalam bentuk yang ekstrem dan menetap, pola tersebut dapat menjadi bagian dari gangguan kepribadian yang hanya dapat dinilai melalui pemeriksaan profesional.

Jadi, lain kali ketika melihat seseorang yang sangat yakin dengan dirinya, jangan buru-buru menyebutnya narsis.

Mungkin dia memang percaya diri.

Mungkin juga ada pola lain yang perlu dilihat lebih jauh.

Karena percaya diri membuat seseorang nyaman dengan dirinya sendiri. Sementara kebutuhan untuk selalu terlihat lebih tinggi dari orang lain adalah persoalan yang berbeda.

Dan perbedaannya tidak selalu bisa terlihat dari sebuah foto, satu percakapan, atau satu unggahan media sosial.



Foto Penulis
Ditulis Oleh

Satro Wardoyo



ads
Untuk Mu
Memuat artikel bisnis...
Pilihan

Iklan

Tools

Memuat Alat...

Novel

Menata rak novel...

Tips
Memuat tips bermanfaat...

Baca halaman ini dalam bahasa lain