BMKG: El Niño Resmi Aktif, Indonesia Waspadai Kekeringan dan Peningkatan Risiko Karhutla
![]() |
| Ilustrasi fenomena El Niño di Indonesia dengan peta wilayah terdampak musim kemarau, simbol cuaca panas, dan risiko kekeringan berdasarkan analisis BMKG Juli 2026. |
JAKARTA, Infokuari – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan fenomena El Niño telah aktif, berdasarkan hasil pemantauan atmosfer dan laut pada Dasarian I Juli 2026. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kekeringan meteorologis di sejumlah wilayah Indonesia serta berdampak pada sektor pertanian, ketersediaan air, hingga ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dalam Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian I Juli 2026 yang diterbitkan pada 13 Juli 2026, BMKG mencatat nilai Sea Surface Temperature Anomaly (SSTA) di wilayah Niño 3.4 mencapai +1,88°C pada skala dasarian dan +1,56°C pada skala bulanan. Angka tersebut menunjukkan bahwa peristiwa El Niño telah aktif, berbeda dengan laporan sebelumnya yang masih mengategorikannya sebagai El Niño Condition atau indikasi awal.
BMKG juga melaporkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Kondisi ini diperkirakan meningkatkan peluang terjadinya curah hujan rendah di sejumlah daerah selama beberapa bulan ke depan, terutama apabila pengaruh El Niño terus menguat.
Selain itu, BMKG mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis untuk Dasarian II Juli 2026. Status Waspada diberlakukan di sejumlah kabupaten dan kota pada beberapa provinsi, antara lain Bali, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku, dan Papua Selatan.
Dampak yang Perlu Diwaspadai
Aktifnya El Niño tidak selalu berarti seluruh Indonesia akan mengalami kekeringan ekstrem. Namun, fenomena ini dapat meningkatkan peluang berkurangnya curah hujan di berbagai wilayah sehingga berpotensi menimbulkan sejumlah dampak, antara lain:
Berkurangnya ketersediaan air bersih di daerah rawan kekeringan. Meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan. Gangguan terhadap sektor pertanian akibat berkurangnya pasokan air. Potensi penurunan produksi pangan di wilayah tertentu. Peningkatan risiko gangguan kesehatan akibat cuaca panas dan kering.
BMKG mengimbau pemerintah daerah, pelaku usaha, serta masyarakat untuk terus memantau pembaruan informasi cuaca dan iklim serta menyiapkan langkah antisipasi sesuai kondisi di wilayah masing-masing.
Informasi dalam artikel ini bersumber dari dokumen resmi BMKG yang diterbitkan pada 13 Juli 2026 dan dibandingkan dengan laporan BMKG sebelumnya yang diterbitkan pada 3 Juli 2026.
Sumber:
BMKG – Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian I Juli 2026
BMKG – Dinamika Atmosfer (Arsip Analisis)
Pada saat artikel ini disusun, Infokuari mengutamakan dokumen resmi BMKG sebagai dasar pemberitaan. Apabila terdapat rilis lanjutan dari BNPB, kementerian terkait, atau media kredibel yang menambahkan perkembangan baru, artikel ini akan diperbarui sesuai standar verifikasi Infokuari.


Komentar
Posting Komentar