Kenapa Kita Sering Terburu-buru Padahal Tidak Ada yang Mengejar?
![]() |
| Ilustrasi seseorang bekerja dengan tergesa-gesa sambil melihat jam, menggambarkan tekanan waktu dalam kehidupan sehari-hari. |
Pernah tidak, baru melihat jam sebentar, tiba-tiba merasa harus melakukan semuanya sekarang juga?
Makan jadi lebih cepat. Membalas pesan secepat mungkin. Menyelesaikan pekerjaan dengan terburu-buru. Bahkan ketika sebenarnya tidak ada orang yang sedang menunggu kita.
Anehnya, setelah semuanya selesai, kadang kita baru sadar bahwa sebenarnya tidak ada alasan untuk terburu-buru. Kita hanya merasa harus segera selesai.
Perasaan seperti ini cukup sering muncul dalam kehidupan sehari-hari. Bukan karena ada keadaan darurat, melainkan karena pikiran kita sendiri menciptakan rasa mendesak.
Rasa Terburu-buru Tidak Selalu Datang dari Keadaan
Kalau seseorang sedang mengejar kereta yang sebentar lagi berangkat, terburu-buru tentu masuk akal.
Tetapi bagaimana dengan saat kita sedang mengerjakan sesuatu yang sebenarnya masih memiliki banyak waktu?
Di situ kita bisa merasakan sesuatu yang berbeda. Tubuh bergerak lebih cepat, pikiran ingin segera menyelesaikan semuanya, dan perhatian terus tertuju pada apa yang belum selesai. Seolah-olah ada sesuatu yang mengejar kita.
Padahal ketika berhenti sebentar dan melihat keadaan dengan tenang, mungkin tidak ada apa-apa. Kita Sering Menganggap Semua Hal Harus Segera Diselesaikan Ada pekerjaan yang memang penting. Tetapi penting tidak selalu berarti harus dilakukan saat itu juga.
Masalahnya, pikiran manusia kadang mencampurkan keduanya. Begitu melihat sesuatu yang belum selesai, muncul dorongan untuk segera membereskannya. Satu pekerjaan selesai, muncul pekerjaan lain. Belum selesai yang kedua, kita sudah memikirkan yang ketiga. Akhirnya hari terasa seperti perlombaan. Bukan dengan orang lain, tetapi dengan daftar pekerjaan yang kita buat sendiri.
Mengapa Kita Tidak Nyaman dengan Sesuatu yang Belum Selesai?
Salah satu penyebabnya adalah kita cenderung ingin mendapatkan kepastian. Pekerjaan yang belum selesai masih menyisakan pertanyaan. “Bagaimana kalau nanti lupa?”
“Bagaimana kalau tidak sempat?”
“Bagaimana kalau ada masalah?”
Dengan menyelesaikannya secepat mungkin,
kita merasa ketidakpastian itu hilang. Karena itu, terburu-buru kadang bukan sekadar soal waktu.
Ada keinginan untuk segera mendapatkan rasa lega. Kita ingin melihat sesuatu selesai supaya pikiran bisa berhenti memikirkannya. Masalahnya, Cepat Tidak Selalu Berarti Lebih Baik Ketika terburu-buru, perhatian kita biasanya menyempit. Kita lebih fokus pada bagaimana sesuatu segera selesai daripada bagaimana cara mengerjakannya dengan baik. Akibatnya, kesalahan kecil lebih mudah terjadi.
Salah membaca pesan. Lupa membawa sesuatu. Salah memasukkan angka. Tidak membaca instruksi sampai selesai. Kemudian kita harus menghabiskan waktu lagi untuk memperbaiki kesalahan yang sebenarnya bisa dihindari kalau sejak awal kita sedikit lebih tenang.
Ironisnya, keinginan untuk menghemat waktu justru bisa membuat kita kehilangan lebih banyak waktu. Tergesa-gesa Juga Bisa Memengaruhi Keputusan Dampaknya bukan hanya pada pekerjaan. Ketika merasa harus segera memilih, kita cenderung ingin mengakhiri ketidakpastian secepat mungkin.
Ada tawaran yang harus dijawab sekarang. Ada pilihan yang katanya tidak akan tersedia lagi nanti. Ada keputusan yang dibuat karena takut terlambat. Dalam keadaan seperti itu, kita mungkin lebih banyak berpikir:
“Yang penting jangan sampai kehilangan kesempatan.”
Daripada:
“Apakah ini memang pilihan yang tepat untuk saya?”
Padahal dua pertanyaan tersebut menghasilkan keputusan yang berbeda.
Tidak Semua Hal yang Mendesak Benar-Benar Penting Coba perhatikan dalam satu hari. Ada pesan yang masuk dan langsung ingin dibalas.
Ada notifikasi yang membuat kita ingin segera membuka ponsel. Ada pekerjaan kecil yang terasa harus langsung dikerjakan. Ada sesuatu yang baru terpikir dan langsung ingin diselesaikan. Semuanya terasa mendesak karena semuanya hadir di depan mata pada saat yang sama. Padahal tingkat kepentingannya berbeda-beda. Kalau semua hal dianggap mendesak, pada akhirnya tidak ada lagi yang benar-benar memiliki prioritas.
Bagaimana Kalau Kita Berhenti Sebentar?
Bukan berarti setiap pekerjaan harus dilakukan dengan lambat. Yang dibutuhkan justru kemampuan membedakan kapan kita memang harus bergerak cepat dan kapan kita hanya merasa harus bergerak cepat.
Saat merasa tergesa-gesa, coba berhenti sebentar dan tanyakan:
“Apa yang sebenarnya akan terjadi kalau saya tidak menyelesaikan ini sekarang?”
Kalau jawabannya adalah sesuatu yang memang serius, lanjutkan.
Tetapi kalau ternyata tidak ada konsekuensi berarti, mungkin kita tidak sedang dikejar waktu. Kita hanya sedang dikejar oleh perasaan sendiri. Ada Kalanya Kita Terburu-buru Karena Takut Kehilangan Ini juga berkaitan dengan rasa takut kehilangan. Kita takut kehilangan kesempatan. Takut kehilangan perhatian seseorang. Takut ketinggalan informasi. Takut orang lain lebih dulu mendapatkan sesuatu. Perasaan tersebut bisa membuat kita ingin segera bertindak sebelum sempat mempertimbangkan apakah kita memang membutuhkan atau menginginkan sesuatu itu.
Karena itu, rasa terburu-buru terkadang bukan berasal dari waktu yang sedikit, melainkan dari ketakutan bahwa sesuatu akan hilang kalau kita tidak segera mengambilnya.
Belajar Memberi Jarak pada Pikiran, Tidak semua hal membutuhkan reaksi seketika. Ada pesan yang bisa dijawab beberapa menit kemudian. Ada keputusan yang boleh dipikirkan lebih dulu. Ada pekerjaan yang bisa dikerjakan satu per satu. Ada masalah yang tidak akan menjadi lebih buruk hanya karena kita berhenti selama beberapa menit untuk berpikir.
Memberi jarak bukan berarti malas. Justru kadang kita membutuhkan jarak supaya bisa melihat keadaan dengan lebih jelas.
Kita memang tidak bisa menghilangkan semua rasa terburu-buru. Ada situasi tertentu yang memang membutuhkan tindakan cepat.
Tetapi ketika perasaan itu muncul padahal tidak ada keadaan yang benar-benar mendesak, mungkin ada baiknya kita bertanya:
“Saya sedang dikejar waktu, atau sedang dikejar pikiran saya sendiri?”
Pertanyaan sederhana itu bisa membantu kita membedakan antara keadaan yang benar-benar membutuhkan kecepatan dan keadaan yang sebenarnya hanya membutuhkan ketenangan. Sebab tidak semua hal yang cepat selesai akan menjadi lebih baik. Kadang, sedikit memperlambat langkah justru membuat kita sampai ke tujuan dengan lebih baik.

Komentar
Posting Komentar